Kamis, 26 Mei 2011

ODONG - ODONG

Dulu ketika masih anak-anak jika ingin menaiki mainan sejenis mobil-mobilan atau kuda-kudaan ,Kemidi Putar,Kincir, Andong kita harus mendatangi pusat perbelanjaan. Jumlah lokasinya pun belum sebanyak sekarang. Untuk menaiki mainan tersebut kita harus membeli koin khusus yang dijual pengelola. Kebutuhan setiap koin pada setiap mainan berbeda-beda, ada yang membutuhkan satu koin atau dua koin.

Namun kini beberapa permainan yang biasanya hanya dijumpai di Mal atau pusat perbelanjaan itu justru sering kita jumpai mendatangi daerah-daerah pemukiman. Dengan sejumlah modifikasi, kiddie ride ini bisa disewakan secara berkeliling. Nama permainan yang ditempatkan di atas kendaraan jenis becak ini adalah odong-odong. Entah darimana asal mula nama tersebut.


Kini para bocah tak perlu lagi repot-repot mendatangi Mal. Mereka cukup nangkring di depan rumah menunggu tukang becak mainan itu lewat. Untuk menaiki kereta mainan tersebut setiap anak cukup membayar 1000 rupiah per-lagu. Selain untuk menarik minat anak-anak, permainan ini memang menggunakan lagu, sebagai hitungan pembayaran sewanya.






Bentuk odong-odong bermacam-macam, ada yang berbentuk mobil, pesawat, kuda, motor bahkan ada odong-odong yang dibentuk menyerupai bianglala (permainan di dunia fantasi, Ancol). Semuanya tentu ukuran mungil, bukan ukuran sebenarnya.
Setiap becak biasanya memiliki empat buah mainan. Untuk menggerakkan masing-masing tunggangan, odong-odong memanfaatkan dinamo sebagai tenaga penggerak. Tukang odong-odong harus mengayuh becaknya untuk memutar dinamo. Semakin banyak bocah yang naik maka sang tukang harus ekstra energi untuk mengayuh pedal. Konsepnya hampir mirip dinamo pada sepeda ontel. Bedanya pada odong-odong sang tukang bisa mengayuh tanpa perlu melajukan becaknya.
Entah siapa yang menjadi pionir pembuatan mainan anak-anak ini. Namun salah satu produsennya bisa kita jumpai di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Mulyadi, sang pemilik bengkel odong-odong sudah merintis bisnis mainan bocah ini sekitar tahun 2003. Demikian menurut informasi yang saya kutip dari Tabloid Nova.
Sekarang kiddie ride ini tak hanya merambah ibukota dan kota-kota besar di Jawa. Bocah-bocah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi pun kini dilanda demam odong-odong.
Apakah Anda juga saat ini sering melihat mainan anak-anak ini lewat di depan rumah?
Cerita Manis Sulaeman dari Sukabumi (085716380930)
Odong-Odong ternyata bisnis yang manis. Padahal semula dipandang bisnis ini sebelah mata. Inilah cerita cerita pembuat sekaligus juragan odong-odong.






Sebuah bengkel yang terselip di antara warung dan rumah petak di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, tampak sibuk. Dikelilingi debu jalanan sempit yang ramai, beberapa orang tengah mengelas sebuah rangka kereta kuda. Oleh sang pemilik bengkel Sulaeman (37), kereta mungil itu disebut andong. Masyarakat menyebutnya odong-odong.

Sulaeman mengawasi pekerjaan karyawan yang berjumlah sepuluh orang. Ia juga tampak puas melihat beberapa kereta yang sudah hampir selesai dicar warna-warni.

Kereta mungil yang dikenal dengan nama odong-odong itu sebagian sudah terlihat bentuknya. Beberapa kereta lainnya bahkan sudah hampir selesai di cat warna-warni yang sangat menyolok mata. "Kami sedang menyiapkan pesanan 30 unit andong untuk dikirim ke Manado," kisah pria berkumis ini.

Usaha yang dirintis Sulaeman, saat ini boleh dibilang tengah naik daun. Lihat saja di beberapa kompleks perumahan di Jakarta Selatan, odong-odong selalu terlihat. Anak-anak begitu senang naik odong-odong, diiring lagu anak dari suara tape yang dipasang di kereta itu.

Anak ke-10 dari 12 bersaudara ini tak menduga bakal jadi pengusaha odong-odong. Awalnya, ia keliling Jakarta menjajakan Roti. Namun, tahun 2003 usahanya tidak jalan. "Akhirnya, saya mencoba usaha baru yaitu membuat andong atau odong-odong ini," katanya.

Sulaeman mengiaku tak tahu siapa yang pertama kali memulai usaha membuat odong-odong. Yang ia tahu, mainan ini disebut andong karena semua mainan ini menggunakan kuda-kudaan dari kayu seperti delman. "Sekarang saya malah enggak tahu kenapa disebut odong-odong. Mungkin mengambil nama dari andong dan kedengarannya juga enak," kata bapak tiga anak ini.

BUAT BERBAGAI MODEL
Diceritakan Sulaiman, tahun 1990 ia merantau ke Jakarta. Apa saja dikerjakan untuk menyambung hidup. Mulai dari jualan barang ROTI sampai menjadi Sales. "Apa saja saya lakukan untuk menghasilkan uang secara halal. Makanya tak aneh bila sekarang saya mencoba usaha ini," jelas pria kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi itu.

Ide usaha ini dikatakan Sulaeman, berawal ketika ia melihat mainan anak-anak di mal. Hanya saja mainan di mal itu harganya mahal. "Saya mencoba membuat mainan sejenis, tapi harganya enggak semahal di mal. Kebetulan, saya pernah melihat orang membuat usaha ini."

Sejak itu, Sulaeman mulai menyusun konsep membuat andong. Hanya saja, ia tidak punya acuan. Akhirnya, ia mencoba-coa membuat sendiri. "Ternyata berhasil. Setelah ketemu cara pengoperasiannya, saya membuat satu andong."

Di masa tahap uji coba, "Modal yang saya keluarkan tidak terlalu besar. Untuk membuat satu andong, saya mengeluarkan dana sekitar Rp 1 juta. Awalnya, sih, bentuknya kurang bagus. Tapi, saya enggak putus asa."

Andong hasil karyanya diuji-coba. Sulaiman membawa sendiri ke perumahan. Tak diduga, andong buatannya menarik perhatian banyak anak. Mereka langsung ingin menjajal nikmatnya naik odong-odong. "Hasilnya lumayan. Sehari saya mengumpulkan uang sekitar 250 ribu."

Melihat hasilnya yang lumayan, teman-teman Sulaeman banyak yang tertarik untuk menjadi penarik andong. Sulaeman pun ingin menambah odong-odongnya. Agar lebih beragam, Sulaeman mengubah model odong-odong. "Bila awalnya membuat mainan kuda-kudaan, saya mulai membuat odong-odong berbentuk mobil-mobilan atau sepeda motor."






Model keretanya pun ikut berubah. Bila awalnya hanya berbentuk kotak sekarang sedikit melengkung. "Ternyata model andong buatan saya disukai banyak orang. Tiga tahun menggeluti usaha ini, saya sudah mengirim andong hampir seluruh Indonesia. Seperti Medan, Lampung, Padang, Palembang, Manado."



TREND SETTER ANDONG
Meski sukses, Sulaeman tak pelit untuk membagi ilmu kepada teman-temannya. "Beberapa anak buah saya sudah memiliki andong sendiri. Bahkan bekas anak buah saya ada yang sudah punya bengkel pembuatan andong. Saya enggak sakit hati, sebaliknya malah senang ada anak buah saya yang mandiri. Namanya mencari rezeki silakan saja."

Munculnya saingan tak membuat Sulaeman khawatir. Ia yakin, karyanya tetap berbeda dengan andong lain. "Saya terus-menerus melakukan perubahan. Mulai dari bentuk mainan, bentuk kereta dan musik. Bukan omong sombong, mainan andong yang ada sekarang itu mengikuti saya. Bisa dibilang, saya trend setter andong."

Satu lagi yang membedakan, kata Sulaeman, musik andong buatannya menggunakan alat-alat musik terbagus. "Musik saya bisa mengalahkan andong lain. Musik andong saya enggak hanya keras, tapi juga enggak menyakitkan telinga. Dengan begitu, musik yang keluar dari andong saya sangat enak didengar. Dengan musik bagus, otomatis menarik pelanggan. Sangat menunjang dilapangan."

Semakin lama menggeluti usaha ini, andong buatan Sulaeman semakin bagus. "Saya pun semakin dapat banyak pesanan. Karena enggak punya modal, mereka terlebih dulu memberi uang pada saya. Saya ingat, pelanggan pertama saya berasal dari Cibubur. Yang lucu, dia sampai menjual motor ojeknya untuk bisa punya andong. Dia bilang prospek andong lebih bagus daripada ojek."

Begitu banyaknya pesananan, kini Sulaeman memilki empat buah bengkel. Dalam sebulan, ia bisa membuat 40 unit andong. "Harga per unit Rp 6 atau 7 juta rupiah."

TOLAK PESANAN
Meski sudah punya empat bengkel, Sulaeman tetap tak bisa memenuhi pesanan pelanggan. "Terkadang, saya sampai menolak pesanan. Makanya saya berencana membuka bengkel lagi," kata Sulaeman yang berencana membuka bengkel.

Selain membuka bengkel membuat andong, Sulaeman tak meninggalkan usahanya menjadi juragan andong. "Sejak dulu sampai sekarang, saya mempertahankan 10 buah andong di rumah. Lumayan untuk membantu pemasukan rumah tangga," tukasnya tersenyum.

Usaha andong Sulaeman memang menjanjikan. Dari 10 andong miliknya, Sulaeman bisa mendapat pemasukan Rp 400 ribu per hari. "Setoran satu andong Rp 40 ribu. Alhamdulillah penghasilan saya dapat menghidupi keluarga. Saya pun bisa mempunyai rumah dan kendaraan. Saya juga bisa membuat lapangan kerja baru. Usaha seperti ini jelas sangat menguntungkan karena tidak terkena imbas kenaikan BBM," bebernya.

Sulaeman sadar, semakin banyak yang melakukan usaha sejenis. Itu sebabnya, ia terus melakukan perbaikan dan pembaruan usahanya. Salah satunya terus memperbaiki model andong. "Saya yakin, usaha ini akan terus jalan. Mengapa? Setiap saat pasti akan terus ada anak kecil yang ingin naik andong," imbuhnya.

"PENDAPATAN BAGUS"
Selain Sulaeman, pengusaha andong Hasan (30) pun mengaku dapat hidup dari usaha ini. "Saya mulai usaha ini dua tahun lalu. Dari satu andong, sekarang saya punya 9 andong. Sebenarnya saya punya 10 buah. Tapi baru seminggu lalu, satu odong-odong saya dibawa kabur," tukasnya.


Iseng dan ingin mencoba peruntungan membawa Hasan menekuni usaha ini. "Lama-lama, kok, pendapatannya bagus. Akhirnya saya teruskan usaha ini sampai sekarang," kata pria asal Sukabumi ini.






Sama seperti Sulaiman, Hasan juga membuat andong. "Andong buatan saya dijual dengan harga Rp 7 juta. Tapi saya enggak punya bengkel sendiri. Saya bikin kerangka andong di bengkel teman saya. Andong buatan saya dijamin lebih awet. Saya pakai cat semprot. Sebelumnya, badan odong-odong didempul," tutur Hasan berpromosi.
Ada yang berminat?
Hubungi Kita:
085716380930
Pegadang Odong-Odong
Harga NEGO

1 komentar: